Mari Berbagi Pengetahuan

Senin, 19 Februari 2018

Inilah Penampakan Tiang Tol Becakayu Ambruk

Inilah Penampakan Tiang Tol Becakayu Ambruk

Kasus kecelakaan konstruksi kembali terjadi. Kali ini peristiwa itu terjadi pada proyek Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang pada awal November 2017 lalu sebagian ruasnya diresmikan Presiden Joko Widodo. Proyek tersebut diketahui digarap PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa (20/2/2018) dini hari. Dalam laporan akun Twitter @TMCPoldaMetro disebutkan ada sejumlah korban yang terimbas peristiwa itu.

“Tiang Girder ambruk dekat Gardu Tol Kebon Nanas Jl. DI. Panjaitan Jaktim & msh penanganan,” demikian tulis akun tersebut.

Saat ini, aparat kepolisian masih menangani peristiwa tersebut. Adapun korban telah dilarikan ke RS UKI Cawang untuk mendapatkan penanganan.

“Polri lakukan penanganan Tiang Girder yang ambruk dekat Gardu Tol Kebon Nanas Jl. DI. Panjaitan Jaktim. @KemenPU,” cuit akun itu.

Sekadar informasi, proyek Tol Becakayu ini sempat mangkrak 22 tahun sebelum dimulai kembali pembangunannya oleh Presiden Jokowi 2014 lalu. Tol ini dirancang sepanjang 21,04 kilometer.

Adapun Seksi 1B dan 1C yang menghubungkan Cipinang Melayu-Pangkalan Jati-Jakasampurna sepanjang 8,26 kilometer telah diresmikan Presiden Jokowi.

Sementara Seksi IA dari DI Panjaitan-Cipinang sepanjang 3,19 kilometer ditargetkan rampung April 2018. Pemerintah menargetkan, seluruh seksi dapat dioperasikan pada tahun 2021.
Read More

Uang dan Kebahagian, Berapa Jumlah yang di Perlukan?

Uang dan Kebahagian, Berapa Jumlah yang di Perlukan?

Banyak orang berkata bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan. Walau begitu, menghasilkan sejumlah uang tertentu bisa menjadi kunci pemenuhan dan kepuasan yang lebih besar dalam hidup.

Sebuah riset terbaru mematahkan anggapan yang selama ini telah diyakini oleh sebagian besar orang tentang uang dan kebahagiaan.

Tetapi, berapakah penghasilan ideal seseorang agar ia merasa bahagia? Ternyata berbeda-beda tergantung pada lingkungan atau negara asalnya.

Untuk orang dari negara kaya, mayoritas menjawab penghasilan atau gaji yang besar, adalah faktor penting untuk kepuasan hidup. Namun, jawaban ideal tentang besaran gaji relatif sangat tinggi.

Penelitian dilakukan oleh sejumlah periset dari Purdue University di Indiana, AS, yang menganalisis hasil dari the Gallup World Poll, sebuah sampel survei perwakilan yang mengumpulkan data dari lebih dari 1,7 juta orang dari 164 negara di seluruh dunia.

Periset mencatat kesejahteraan emosional dan kepuasan hidup peserta dengan menganalisis daya beli dan jawaban yang mereka berikan pada pertanyaan yang berkaitan dengan kepuasan dan kesejahteraan.

Temuan ini kemudian dibandingkan dengan pendapatan tahunan individu untuk mengukur kebahagiaan mereka secara keseluruhan.

Wilayah dengan tingkat kepuasan gaji tertinggi adalah Australia dan Selandia Baru, dengan jumlah pemasukan yang dibutuhkan setiap tahun sebelum mencapai tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi mencapai rata-rata 125.000 dolar atau sekitar 1,6 miliar rupiah.

Sebagai perbandingan, wilayah dengan kepuasan pendapatan terendah adalah Amerika Latin dan Karibia.  Dengan penghiasilan sekitar 35.000 dolar atau sekitar 475 juta rupiah, mereka merasa sudah bahagia.

Lokasi bukanlah satu-satunya faktor yang dipertimbangkan para peneliti saat menilai berapa banyak uang yang dibutuhkan seseorang setiap tahunnya sebelum mereka dapat menggambarkan dirinya sebagai orang yang benar-benar bahagia.

Gender juga dianggap berperan dalam kepuasan pendapatan. Para pria merasa lebih sulit mencapai kepuasan gaji.

Salah satu alasannya, aturan konvensial lebih menekankan pria pada pada prestasi dan status sosial. Faktor tambahan lain adalah jumlah anak dan lingkungan tempat tinggal.

Penghasilan yang tinggi biasanya berkorelasi dengan tuntutan kerja yang tinggi, misalnya tanggung jawab, beban kerja, hingga waktu. Ini sebabnya mengapa orang yang gajinya besar merasa butuh lebih lama untuk mencapai kebahagiaan dibanding yang gajinya kecil.

Bagaimana dengan di Indonesia?  Dilansir dari laman resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, pendapatan per kapita orang Indonesia pada tahun 2016 mencapai 47,96 juta per tahun. Jika dihitung secara bulanan, maka rata-rata pendapatan orang Indonesia mencapai 4 juta rupiah setiap bulannya.

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik 2015 menyebutkan bahwa jumlah minimum untuk hidup layak di Indonesia mencapai angka 1,8 juta rupiah.
Read More

Jumat, 16 Februari 2018

Cerita Mangkuk Ayam Jago yang Ternyata dari Dhina

Cerita Mangkuk Ayam Jago yang Ternyata dari Dhina

Para penggemar kuliner berkuah seperti mie ayam, bakso, dan lainnya, mungkin tak merasa asing dengan mangkuk bergambar ayam jago.

Orang-orang berusia produktif yang tumbuh di era 70-80an pun juga familiar dengan keberadaan mangkok ini. Bagi mereka, mangkuk ayam jago bisa menjadi pengikat ingatan kolektif masa-masa menyantap bakso di warung favorit.

Zaman sekarang ini, gambar ayam jago pada mangkuk yang legendaris tersebut menjadi inspirasi para kaum muda kreatif untuk membuat beragam aksesori, seperti tas, kaus, topi, selendang, sarung bantal, hingga selampai.

Penggemarnya pun tak kalah heboh. Mereka menunjukkan rasa bangganya dengan melakukan swafoto bersama barang-barang bergambar ayam jago.

Ada pula beberapa produsen alat makan yang memproduksi varian mangkuk dan piring bergambar sang ayam jago.

Melihat hal itu, produsen asli mangkuk ayam jago mengimbau agar pengusaha lain tidak menggunakan desain gambar yang sama. Ini terkait dengan hak cipta perusahaan dari PT Lucky Indah Keramik.

Kisah si mangkuk ayam jago

Di negara asalnya, China, mangkuk ini tidak hanya tenar sebagai perangkat makan sehari-hari. Ia juga terkenal karena sering menjadi properti di film-film Hong Kong karya Stephen Chow pada tahun 90-an.

Tidak hanya itu, mangkuk ayam jago merupakan perangkat makan yang wajib digunakan sebagai "seserahan" dalam upacara pernikahan di China.

Orang Kanton biasa menyebutnya dengan Jigongwan, penduduk di wilayah China bagian utara Gongjiwan, sementara mereka yang berdialek Minnan atau tinggal di China bagian selatan memanggilnya Jijiaowan.

Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula kisah si mangkuk ayam jago ini?

Kisahnya berawal pada masa Dinasti Ming periode pemerintahan Kaisar Chenghua (1465-1487). Saat itu, Sang Kaisar memesan empat buah cawan bergambar ayam jago dan ayam betina pada pengrajin keramik khusus kekaisaran di daerah Jingdezhen (Propinsi Jiangxi) —yang terkenal menghasilkan keramik untuk istana sejak abad ke-6 M.

Kaisar Chenghua memesan empat buah cawan keramik dengan teknik doucai, khusus untuk dirinya dan istrinya sebagai tanda cinta. Cawan tersebut terkenal dengan Jigangbei atau "cawan ayam", yang terdiri dari gambar ayam jago, betina, dan anak ayam yang bermakna kemakmuran. Banyak anak, banyak rezeki.

Dipuja-puja Kaisar China

Cawan dan mangkuk ayam memiliki makna simbolis. Kata Ji, yang berarti "ayam", mirip bunyinya dengan kata Jia yang bermakna "rumah". Gambar tanaman peoni melambangkan kekayaan. Sementara pohon pisang dengan daun lebar bermakna keberuntungan untuk keluarga.  

Kaisar-kaisar China begitu menyukai cawan ayam jago tersebut. Di antaranya ada Kaisar Wanli (memerintah tahun 1572-1620)dan Kaisar Kangxi (memerintah tahun 1661-1722) dari Dinasti Qing. Saking menyukai cawan tersebut, mereka berani mematok harga mahal untuk gambar ayam jago.

Kaisar Qian Long (memerintah tahun 1735-1796), bahkan membuat puisi khusus yang memuja mangkuk ayam jago itu pada 1776.

Pada masa Dinasti Qing, mangkuk ayam jago mulai diproduksi massal. Masyarakat kelas menengah ke bawah di China pada masa itu hanya dapat menggunakan mangkuk bergambar ayam. Sebab, mangkuk-mangkuk bergambar naga, phoenix dan motif lainnya, lebih mahal harganya.

Dalam perkembangan selanjutnya, bagi petani di China, mangkuk ayam jago merupakan lambang kerja keras untuk mendapat kemakmuran. Ini mengingat peran ayam jago yang selalu membangunkan mereka di pagi hari untuk segera bekerja di ladang.

Incaran kolektor

Sekitar awal abad 20, mangkuk ayam jago mulai merambah dunia. Awalnya dibawa oleh para perantau, yang pabriknya berada di Provinsi Guangdong. Lalu menyebar ke beberapa negara di Asia Tenggara. Mangkuk ayam jago pun semakin banyak diproduksi. Mulai dari menggunakan teknik gambar tangan hingga mesin.

Saat ini, cawan ayam jago pada masa kekaisaran menjadi buruan bagi para kolektor barang antik di seluruh dunia.

Sebuah ‘Cawan Chenghua’ yang hanya ada empat di dunia, pernah dilelang oleh badan lelang Sotheby di Hong Kong pada tahun 1960, 1970an, 1980an, 1990an dan terakhir pada 2014. Lelang tertingginya mencapai 36,3 juta dollar AS.

Nah, bagaimana? Menarik bukan? Mangkuk ayam jago yang merupakan simbol keberuntungan, kerja keras, dan kemakmuran bisa menjadi salah satu pilihan piranti makan di rumah kita. Juga sebagai benda nostalgia masa lalu saat menikmati semangkuk mi ayam atau soto di warung makan bersama keluarga. 
Read More

© Catatan Digital Fuji, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena