Mari Berbagi Pengetahuan

Senin, 09 April 2018

Jepang dan China Bersaing Sengit Danai Infrastruktur Asia Tenggara

Jepang dan China Bersaing Sengit Danai Infrastruktur Asia Tenggara

Dorongan ekspansi China dalam pendanaan proyek infrastruktur di negara-negara ASEAN (Asia Tenggara), mungkin menjadi perhatian dalam berbagai ulasan di media massa. Namun, survei BMI Research menunjukkan Jepang masih berada di posisi teratas.

Dilansir Bloomberg, Pemerintah Jepang terus mencari target baru untuk menanamkan investasi di sektor infrastruktur di luar negeri.

Filipina dan Vietnam, adalah negara yang dibidik negeri matahari terbit itu. Jepang mendominasi investasi di kedua negara yang kini disebut sebagai negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia itu.

Melihat hal demikian, tentu saja China tidak tinggal diam. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu dengan mendorong pertumbuhan investasi di negara-negara yang sebelumnya telah dikunjungi Presiden Xi Jinping pada daftar negara-negara Belt and Road Initiative.

“Ketika banyak perusahaan serta lembaga pemerintahan Jepang telah menjalin hubungan dengan negara-negara itu, perusahaan-perusahaan China terus mencari celah untuk masuk ke sektor tertentu,” kata seorang analis di BMI Research, Christian Zhang.

Dua negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia itu terus bersaing ketat untuk mendapatkan pengaruh di kawasan ASEAN.

Pemerintah Singapura dan Vietnam bahkan dengan sengaja terus membangun bandara, jalan tol, serta angkutan massal cepat untuk menarik investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Proyek infrastruktur pun kian tumbuh seiring dengan meningkatnya mesin pertumbuhan utama di kawasan ini.

Indonesia juga tak mau kalah, menawarkan lebih dari 250 proyek infrastruktru, sementara Filipina berencana menghabiskan 180 miliar dollar AS untuk membangun rel, jalan dan bandara. Adapun Singapura bakal menggandakan sistem angkutan massalnya.

Untuk mengurangi ketegangan anggaran yang dimiliki pemerintah, negara-negara ini membuka kerja sama dengan negara yang lebih kaya dalam sebuah kerja sama.
Dari survei BMI Research diketahui, sejak tahun 2000, total investasi Jepang di sektor infrastruktur mencapai 230 miliar dollar AS atau ekuivalen Rp 3.118 triliun.

Sementara, investasi China mencapai 155 miliar dollar AS (Rp 2.102 triliun. Lebih dari 90 persen proyek memiliki tanggal konstruksi aktual atau direncanakan setelah 2013.

Persaingan pun belum selesai. Keuangan pemerintah dari negara-negara Asia Tenggara, dipastikan tidak akan cukup kuat untuk mendanai semua proyek yang direncanakan. 

Nah, di sini China punya kesempatan luas untuk dapat mengejar ketertinggalan dari Jepang.

Sejumlah kesepakatan yang telah dikerjasamakan Beijing di dalam Belt and Road Initiative dalam dua tahun terakhir, merupakan pertanda baik bagi China.

© Catatan Digital Fuji, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena